Sebuah renungan dari Congress Of Indonesian Diaspora
Oleh: Gemah Rahardjo.
Sulit rasanya menjawab sebuah pertanyaan ringan yang sering dilontarkan orang kepada kita, “Mana yang lebih dahulu ada di dunia, ayam atau telur?”. Pertanyaan itu juga yang menjadikan saya sulit membayangkan bagaimana manusia dapat memisahkan antara tempat hidupnya yang baru dengan asal-usul dan tanah kelahirannya. Tabiat, watak dan sifat-sifat dasar manusia memang tidak dapat begitu saja terubah oleh cakrawala tempat kita berpijak saat ini, meskipun kedua-duanya sepanjang hidup terus mengalami perkembangan bersama, berjalan seiring, saling membentuk dan terkadang juga saling tolak. Yang pertama adalah asal usul dan tanah kelahiran kita (baca: Indonesia) dan yang kedua adalah bumi dimana tempat kita berpijak saat ini (baca: Amerika). Keduanya menjadi satu keutuhan dari penyatuan hubungan timbal balik. Maka jawaban atas pertanyaan bagaimana kita terbentuk menjadi seperti adanya sekarang mau tak mau akan menyerempet asal-usul dan sejarah asal-muasal kita.
Hampir dua tahun saya tinggal di Amerika dan sejak tahun pertama kedatangan saya, seorang penulis asal Indonesia yang sudah lebih dari 40 tahun tinggal di Amerika telah menggelembungkan kesadaran dan kecintaan saya terhadap negara dan tanah air. Dalam suatu pertemuan yang tidak terduga, beliau mengajak saya untuk mewujudkan mimpi dan keinginannya membangun sebuah wadah perlindungan dan pelestarian bahasa Indonesia di Amerika. Tanpa pikir panjang saya lalu setuju dan bersedia membantu – bukan karena saya mampu untuk itu, tetapi karena saya kagum sekaligus malu terhadap beliau yang adalah keturunan China tetapi ternyata memiliki kecintaan luar biasa terhadap Indonesia melebihi diri saya. Saya melihat ketertarikan jiwa dan hatinya begitu kuat terhadap negara dan tanah kelahirannya. Dalam pandangan saya, beliau adalah manusia Indonesia sejati. Manusia Indonesia yang memiliki cakrawala luas, yang menghayati kecintaan terhadap bangsa dan negara bukan dari “kulit luar” atau hanya lewat kata.
Kecintaan terhadap bangsa dan negara memang bukanlah menjadi tujuan akhir, tetapi ini dapat kita tumbuhkan selaras dengan tahap-tahap penemuan jati diri. Kesadaran akan tugas dan tanggung jawab sebagai manusia Indonesia akan mengetuk hati kita untuk memberikan dan berbuat sesuatu bagi tanah air.
Congress Of Indonesian Diaspora adalah salah satu kesempatan dan sarana “urun rembug” bagi masyarakat Indonesia yang terserak di seluruh dunia. Peran serta kita dalam acara seperti ini kiranya akan mampu mengingatkan dan memacu semangat kecintaan terhadap negara. Berkumpulnya banyak orang yang memiliki satu kepedulian terhadap bangsa akan lebih mengarah kepada tindakan nyata yang lebih terarah.
Dalam acara Congress Of Indonesian Diaspora tanggal 6 sampai 8 Juli 2012 itu tampak jelas terlihat adanya semangat yang mengarah kepada penemuan jati diri kaum pecinta tanah air Indonesia . Banyak sekali penggagas yang berani dan memiliki kepedulian. Diantara mereka telah mendirikan perkumpulan yang mengatasnamakan Indonesia. Perkumpulan ini telah banyak juga yang memberikan sumbangsih dan baktinya kepada negara melalui kegiatan kelompok masing-masing.
Saya percaya bahwa banyak orang Indonesia sejati di Amerika ini yang memiliki kecintaan besar. Bahkan banyak di antara kita yang rela berkorban untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Tetapi apakah kita sadar bahwa kepedulian yang terserak itu akan jauh lebih berat dan terkadang tidak membuahkan hasil apapun. Bayangkan jika kepedulian yang terserak itu dapat disatukan? Bayangkan jika seluruh manusia Indonesia sejati di Amerika ini dapat berkumpul dan bekerjasama mewujudkan panggilan ibu pertiwi?
Sudah sepatutnya kita sebagai manusia Indonesia turut mendukung dan tidak lantas berburuk sangka terhadap acara-acara seperti ini. Bisa jadi bahkan di acara ini kita dapat menimbulkan ombak besar di lautan dengan hanya melempar kerikil. Kita memang harus menyatukan yang terserak. Bukankah ini maksud dari diaspora? Jika demikian, relakan diri kita yang benar-benar peduli dan cinta terhadap bangsa dan negara untuk menemukan jati diri yang lebih lengkap, lebih dewasa, dan lebih luas lagi.
Saya pernah membaca mengenai pernyataan Duta Besar kita, bapak Dino Patti Djalal yang kira-kira seperti:
.......Saya ingin melihat masyarakat Indonesia di AS tumbuh menjadi kekuatan besar yang bermanfaat dan dibutuhkan bagi Indonesia. Namun demikian, kita juga harus jujur bahwa peran serta kita kepada tanah air masih di bawah kemampuan yang sebenarnya. Kita harus menumbuhkan budaya keunggulan dan kekuatan pikiran yang baik, menjauhkan diri dari pikiran dan prasangka buruk dan meragukan sifat-sifat baik seseorang yang sayangnya kadang masih membebani langkah sebagian kecil masyarakat kita. Dalam perjalanan saya, tidak pernah ada orang yang berhasil dengan pikiran dan prasangka buruk dan meragukan sifat-sifat baik seseorang. Masyarakat yang berhasil adalah masyarakat yang mampu dan memiliki keyakinan, serta budaya unggul.
Marilah kita semua mengambil hikmah dari apa yang terjadi di negara kita dengan hati dan pikiran jernih. Saya menyempatkan diri hadir ke acara itu dan berharap menemukan titik puncak di mana semua orang Indonesia yang hadir pada saat itu menemukan rekan dan sahabat yang peduli terhadap rencana-rencana besar kita semua dan ikut membantu mewujudkan apa yang sesungguhnya menjadi panggilan dan cita-cita bersama sebagai anak bangsa untuk berbuat dan memberikan yang terbaik kepada tanah air kita dari tanah rantau.
