Oleh: Buntoro.
Di jaman teknologi informasi super cepat saat ini, kita dapat melakukan banyak hal hanya dengan membuka telpon kita. Telpon? Benar, telpon genggam saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi lisan (alias tidak hanya untuk telpon), tapi juga untuk banyak fungsi lainnya. Kita bisa mengecek saldo tabungan kita di bank melalui aplikasi resmi dari bank kita. Kita bisa melihat status investasi saham atau reksadana melalui aplikasi investasi yang kita percaya. Kita juga bisa menghubungi atau mendapatkan status terkini dari teman kita yang tinggal jauh lewat media sosial seperti WhatsApp, Facebook dan sebagainya. Kita bisa melihat video tentang cara memasak makanan tertentu atau bahkan memperbaiki toilet yang bocor dari media YouTube. Kita bisa juga menulis email lewat berbagai aplikasi email di telpon genggam kita. Kita juga bisa membaca berbagai berita atau informasi melalui berbagai aplikasi berita atau lewat mesin pencari seperti Google. Dan ini cuma ibaratnya puncak dari gunung es, hanya beberapa contoh dari kecanggihan telepon cerdas di jaman ini.
Sayangnya kemajuan teknologi saat ini juga berfungsi seperti pedang bermata dua yang bisa menguntungkan di satu sisi tapi juga bisa merugikan kalau dilihat dari sisi lainnya. Di sisi positif, kemudahan berkomunikasi ini banyak membantu mempermudah hidup kita seperti banyak contoh di atas. Di sisi lain, cepatnya komunikasi juga membuat cepatnya penyebaran berita hoax atau gossip yang tidak benar. Kalau dulu berita hoax menyebar mulut ke mulut, sekarang dari telpon genggam ke telpon genggam lainnya, terkadang sampai melewati batas negara. Sayangnya, berita hoax itu tidak hanya banyak menyebar melalui media sosial, tetapi juga kadang menyebar melalui media massa besar seperti koran atau majalah online. Cepatnya penyebaran informasi seiiring dengan upaya untuk menyediakan berita terhangat membuat banyak media lokal bergantung kepada konten terjemahan dari sumber media luar negeri. Fakta ini, baik secara langsung atau tidak, digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan berita hoax yang berpihak terhadap kepentingan pihak tertentu.
Hal ini yang bisa kita lihat dari pemberitaan tentang invasi Rusia ke negara tetangganya, Ukraina. Bermingu-minggu sebelum invasi ini, intelijen Barat melaporkan penumpukan kekuatan militer Rusia di perbatasan Ukraina tapi berita ini nampaknya kurang begitu disukai oleh banyak media lokal Indonesia, karena itu banyak media yang menolak mengeksposnya. Media lokal Indonesia lebih memilih untuk mengekspos berita dari media pro Beijing atau pro Rusia yang menyatakan bahwa klaim Barat itu adalah fitnah. Ada yang bilang isu itu adalah upaya Barat untuk menjelek-jelekkan Olimpiade Musim Dingin di Beijing yang barusan berlangsung di bulan February 2022 kemarin. Ada juga yang beralasan pihak Barat menuduh Rusia mau menyerang Ukraina demi upaya mereka menarik Ukraina supaya lebih mendekat ke pihak Barat (NATO).
Jujur saja, saya sendiri tidak kaget kalau banyak orang sangsi akan data intelijen Barat itu karena data intelijen itu sendiri seringkali tidak seratus persen akurat karena data itu sendiri berasal dari informasi agen atau informan yang bersembunyi di negara lain. Salah satu contoh informasi intelijen yang tidak akurat adalah intelijen palsu yang disebarkan oleh tokoh separatis Irak di jaman Saddam Hussein, Ahmad Chalabi. Chalabi yang juga menjadi narasumber intel Barat mengaku bahwa Saddam Hussein mengembangkan senjata pembunuh massal. Data intelijen tidak akurat ini sepertinya didukung atau dibenarkan oleh intelijen Iran yang juga memiliki kepentingan untuk menjatuhkan rejim Saddam Hussein. Akhirnya, intelijen yang tidak akurat ini dipakai oleh Amerika Serikat untuk menginvasi Irak dengan alasan untuk menghancurkan senjata pembunuh massal. Data intelijen, sama seperti berita pada umumnya, sangat tergantung pada kualitas atau akurasi data yang diberikan. Tentunya data intelijen ini sangat mungkin dipengaruhi oleh motif agen itu sendiri atau juga oleh disinformasi dan infiltrasi oleh operasi kontra intelijen. Banyak agen intelijen yang bahkan dilatih khusus untuk kontra intelijen, yaitu untuk menyebarluaskan data yang menyesatkan untuk mengacaukan musuh mereka.
Menariknya, setelah Rusia terbukti menyerang Ukraina beberapa hari setelah Olimpiade Musim Dingin 2022 selesai di Beijing, saat media lokal resmi menyebarkan berita invasi Rusia ini ternyata berita yang tersebar di media sosial Indonesia terkait tragedi kemanusiaan di Ukraina ini malah dibumbui oleh isu miring berbau agama yang seakan-akan menggambarkan invasi Rusia ini sebagai perang umat Muslim melawan umat Kristen/Yahudi karena presiden Ukraina adalah seorang keturunan Yahudi. Banyaknya isu miring ini sampai membuat duta besar Ukraina untuk Indonesia memberikan pernyataan resmi ke media massa untuk mengklarifikasi isu miring tersebut. Duta besar Vasyl Hamia-Nin menekankan bahwa banyak umat Muslim di Ukraina yang ikut berjuang melawan agresi Rusia ini, bahkan termasuk Mufti Ukraina dan Krimea, wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia melalui invasi Rusia di tahun 2014 lalu.[1]
Propaganda Rusia yang ditujukan ke dunia Islam sering menampilkan Ramzan Kadyrov, orang kuat di Chechnya pendukung Putin, yang mengaku bahwa rakyat Chechnya yang notabene Muslim mendukung penuh invasi Rusia di Ukraina. Apakah pernyataan Ramzan Kadyrov ini benar-benar mewakili suara umat Muslim Chechnya? Ini yang perlu dipertanyakan. Sayangnya, media di Indonesia jarang mengekspos berita yang berasal dari kelompok pendukung kemerdekaan Chechnya yang menganggap Kadyrov sebagai boneka Putin yang melakukan banyak tindakan kekerasan bagi rakyat Chechnya sendiri. Banyak pelarian Chechnya di pengasingan yang menolak pernyataan Kadyrov sebagai suara rakyat Chechnya seperti dinyatakan oleh Perwakilan kelompok orang Chechnya pengasingan di Eropa misalnya. Malah tokoh Chechnya seperti Akhmed Gisaev, yang dulu bekerja di Kementerian Dalam Negeri Chechen Republik Ichkeria (Nama resmi republik separatis Chechnya yang berjuang untuk merdeka dari pengaruh Rusia), menganggap Rusia adalah musuh Chechnya sesungguhnya, baik di Chechnya atau di Ukraina.[2]
Bukti banyaknya pengaruh propaganda Rusia di media lokal Indonesia juga dapat dilihat dari laporan media lokal yang menekankan keberadaan kelompok sayap kanan pro Nazi di Ukraina, seperti Brigade Azov yang aktif di Mariupol. Berita ini seakan-akan membenarkan propaganda Rusia yang juga beralasan bahwa mereka menyerang Ukraina karena pemerintah Ukraina itu pro-Nazi. Sayangnya, media lokal seakan-akan lupa melaporkan kenyataan bahwa kelompok ultra nasionalis seperti Azov ini adalah kelompok minoritas di Ukraina. Bahkan, Svoboda, partai ultra nasionalis di Ukraina yang juga cenderung rasis, tidak memiliki satu kursi pun di parlemen Ukraina terakhir, sementara Partai Ultra Nasionalis sayap kanan yang senada menguasai setidaknya satu kursi parlemen di 19 negara Eropa lainnya.[3] Propaganda Rusia yang menuduh Ukraina sebagai pro-Nazi juga dibantah oleh pemerintah Jerman melalui cuitan Kedutaan Besar Jerman di Afrika Selatan yang menyatakan bahwa “orang yang tertipu oleh ini mestinya malu.”[4]
Selain itu, media di Indonesia juga “lupa” atau tidak perduli akan adanya kelompok pejuang Muslim Chechnya yang berpihak ke Ukraina seperti kelompok pejuang Sheikh Mansur (yang dinamakan sesuai nama pejuang Chechnya terkenal jaman dulu) yang juga aktif melawan Rusia di Mariupol atau batalyon Dzhokhar Dudayev (yang dinamakan sesuai nama presiden Chechnya pertama di Republik Ichkeria), yang dikabarkan aktif di Kiev.[5] Kelompok Muslim Chechnya ini telah berpihak ke Ukraina sejak Rusia menyerang Krimea di tahun 2014, mungkin karena mereka merasa memiliki musuh bersama, yaitu Rusia. Mereka sendiri adalah mantan pejuang Chechnya yang dulu berperang melawan Rusia di Perang Chechnya pertama (1994-1996) dimana Republik Ichkeria menyatakan merdeka, juga di Perang Chechnya kedua (1999-2000) yang terjadi karena perintah Vladimir Putin juga, yang saat itu adalah perdana menteri Rusia. Kejatuhan Republik Ichkeria membuat banyak mantan pejuang Chechnya yang pro kemerdekaan yang dikejar pemerintahan Kadyrov dan Rusia. Banyak yang melarikan diri ke luar negeri, termasuk mereka yang berlindung di Ukraina. Kemenangan Rusia di Perang Chechnya kedua inilah yang mengorbitkan posisi Putin yang nantinya menjadi presiden Rusia.
Karena informasi yang berat sebelah ini, tidaklah mengherankan kalau sebagian besar rakyat Indonesia cenderung mendukung invasi Rusia ke Ukraina ini, kebanyakan karena isu agama. Komentar di media resmi Indonesia terkait bencana kemanusiaan di Ukraina ini seringkali terbelah karena banyak orang yang terus membela invasi Rusia dan Putin dengan alasan yang tidak jauh berbeda dengan narasi propaganda disinformasi Rusia. Sedihnya, seakan-akan mereka tidak perduli akan banyaknya korban jiwa manusia yang disebabkan oleh agresi Rusia terhadap negara tetangganya, Ukraina. Hal ini sangat menyedihkan jujur saja, karena bangsa Indonesia semestinya menunjukkan lebih banyak rasa simpati (sebagai bangsa yang pernah dijajah) atau setidaknya empati bagi penderitaan rakyat Ukraina kalau bangsa Indonesia benar-benar percaya akan asas peri kemanusiaan dan peri keadilan sesuai dengan pernyataan di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”
Perang dimana-mana itu dibayar mahal oleh darah dan air mata, terlebih jika para pelaku perang itu mengabaikan aturan internasional terkait perang seperti Konvensi Jenewa yang melarang serangan militer terhadap warga sipil dan fasilitas sipil. Sayangnya, kalau kita lihat dari sejarah invasi Rusia ke banyak daerah mantan Uni Soviet sejak 1999 saat Putin menyerang wilayah Chechnya untuk menguasai daerah itu kembali, kita bisa tahu bahwa Putin tidak perduli dengan korban jiwa sipil jika kita analisa betapa brutal taktik perang yang digunakan oleh Putin sendiri. Di Chechnya, Putin menggunakan taktik bumi hangus fasilitas sipil untuk menekan perlawanan rakyat Chechnya, sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan internasional seperti Konvensi Jenewa. Selain itu Putin juga memakai paramiliter non tentara seperti kelompok milisi Kossack untuk menekan perlawanan rakyat Chechnya. Milisi Kossack sendiri terkenal sebagai kelompok yang rasis, anti-Yahudi dan anti Katolik. Milisi Kossack, yang juga dikenal anti Islam, sebenarnya dulu juga anti Komunis dan telah berulang kali memberontak di sejarah Russia tapi akhir-akhir ini mereka diasimilasi oleh pemerintah Rusia dan digunakan oleh Putin untuk ambisinya. Sentimen anti Islam dari kelompok Kossack dipakai Putin untuk mengejar warga Chechnya yang dianggap terlibat dalam perang Chechnya, terutama mereka yang lari dari wilayah Chechnya ke wilayah Rusia lainnya.[6]
Cerdiknya, untuk menghindari kesan ‘menjajah,’ Putin juga menggunakan orang kuat yang berasal dari Chechnya sendiri sebagai bonekanya. Ramzan Kadyrov, yang dulunya mantan pemberontak Chechnya dipakai Putin untuk meligitimasi kontrol Rusia atas wilayah Chechnya. Kadyrov sendiri terkenal sebagai seorang psikopat, menurut Michael Weiss, seorang ahli tentang Rusia. Kadyrov, yang terkenal dengan pelanggaran hak asasi manusianya, dilaporkan suka menyiksa tawanan perang dengan brutal, termasuk warga Chechnya sendiri. Tidak jauh berbeda dengan Putin yang suka membunuh pelarian politik Rusia di luar negeri, Kadyrov juga dilaporkan mengirim kelompok pembunuh Dari Chechnya untuk menghabisi warga Chechnya pelarian di luar negeri seperti, mulai dari Berlin, Kiev ataupun Istanbul.[7]
Taktik perang yang digunakan Putin di Grozny, Chechnya, yang menghancurkan wilayah sipil kota Grozny telah terlihat dipakai lagi di Ukraina.[8] PBB melaporkan bahwa kota Grozny saat itu adalah kota paling hancur di dunia. Sementara kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia (Human Rights Watch) melaporkan bahwa korban sipil saat itu lebih dari 10.000 jiwa.[9] Putin juga dilaporkan menggunakan taktik yang sama ketika Rusia membantu presiden Suriah, Bashar Al-Assad, untuk melawan pemberontak Suriah. Wilayah kota Aleppo yang dikuasai pemberontak Suriah semua dihancurkan.[10] Di Suriah, Putin juga dilaporkan menggunakan milisi bersenjata tidak resmi seperti the Wagner Group untuk melakukan misi dan operasi intelijen yang seringkali melanggar hak asasi manusia.[11] Penggunaan milisi bersenjata non tentara dari Rusia sebagai tentara bayaran juga akhir-akhir ini dilaporkan di banyak negara Afrika, mulai dari Sudan sampai Mali, dimana milisi Wagner Group digunakan pemerintah lokal yang korup untuk melawan pemberontak lokal.[12]
Perang itu sendiri pada dasarnya berlawanan dengan asas perikemanusiaan atau perikeadilan, karena perang menyebabkan banyak korban jiwa manusia, baik militer maupun sipil yang terjebak di tengah-tengah pertempuran. Umumnya, yang kalah jadi abu sementara yang menang jadi arang sesuai istilah peribahasa Indonesia. Tapi penggunaan narasi agama dalam perang adalah salah satu cara yang efektif untuk membenarkan tujuan perang karena manusia cenderung tidak menggunakan nalar saat melihat informasi dari kacamata agama. Kita cenderung berpihak pada mereka yang kita anggap seiman, seringkali tanpa menghiraukan fakta atau kebenaran yang sesungguhnya. Misalnya, dalam narasi konflik Israel-Palestina, umat Muslim cenderung berpihak kepada pihak Palestina yang dianggap mewakili pihak Islam sementara umat Kristen cenderung berpihak kepada Israel padahal sebenarnya konflik ini jauh lebih kompleks daripada sekedar konflik antar agama.
Sekarang, konflik di Ukraina ini juga dibingkai dengan narasi agama, apalagi dengan propaganda Rusia dimana Kadyrov dilaporkan mengirim ribuan prajurit Chechnya sementara Assad juga mengirim ribuan rakyat Suriah untuk mendukung invasi Rusia di negara Ukraina ini. Sekarang, apakah konflik ini benar-benar perang Islam vs Kristen Orthodox? Saya kira tidak. Jujur saja, perang ini lebih merupakan perang yang kebetulan melibatkan prajurit yang beragama Islam melawan mereka yang juga beragama Islam, dan juga mereka yang beragama Kristen Orthodox melawan mereka yang Kristen Orthodox. Rakyat Ukraina kebanyakan beragama Kristen Orthodox tapi banyak juga yang beragama Islam seperti warga Ukraina keturunan Tatar di Krimea dan juga kelompok pejuang Chechnya pelarian di Ukraina. Pemimpin spiritual Muslim di Krimea, Aider Rustemov, telah menyatakan menolak invasi Rusia ke Ukraina.[13]
Di sisi lain, keragaman rakyat Rusia sendiri juga mirip dengan Ukraina. Mereka kebanyakan beragama Kristen Orthodox, tapi ada juga yang Islam. Di dalam negeri Rusia sendiri, invasi Putin dilaporkan mendapat dukungan langsung dari pemimpin spiritual Kristen Orthodox Rusia, uskup Kirill I yang menyatakan bahwa perang ini adalah perang suci.[14] Dukungan Kirill atas invasi Rusia ini sampai dikritik secara terbuka oleh Paus Fransiskus, pemimpin spiritual umat Katolik saat Paus Fransiskus berbicara dengan Kirill melalui video conference pada 16 Maret 2022.[15] Uskup Kirill I sendiri dituding oleh banyak pengamat sebagai mantan agen KGB menurut data intelijen Soviet yang ditemukan pada tahun 2009.[16] Uskup Alexei II (Alexy) yang sebelumnya memimpin gereja Orthodox di Rusia juga dilaporkan sebagai mantan agen KGB berdasarkan dokumen jaman Soviet yang ditemukan di Estonia pada tahun 1999.[17]
Narasi agama yang tersirat di konflik ini sebenarnya adalah ilusi, satu bagian dari propaganda bermata dua yang digunakan oleh Putin untuk mengontrol opini masyarakat Rusia dan dunia. Putin menggunakan dua narasi agama sebagai strategi pembenaran invasi militernya. Narasi pertama berdasarkan agama Kristen Orthodox yang ditujukan bagi rakyat Rusia sendiri yang mayoritas beragama Kristen Orthodox supaya mendukung invasi Putin, seperti dukungan uskup Kirill dari gereja Orthodox Rusia. Narasi kedua yang ditujukan buat dunia Islam, yaitu narasi bahwa perang ini didukung oleh umat Muslim di Rusia (Chechnya). Sebagai mantan agen KGB, Putin sangatlah fasih dalam memainkan kartu agama dalam perang, seperti terbukti dalam invasi Rusia ke Chechnya di tahun 1999. Sejatinya, Putin sendiri tidak perduli dengan nyawa tentara atau paramiliter Rusia baik yang Muslim ataupun Kristen Orthodox, baginya mereka itu hanyalah sekedar pion atau tumbal demi ambisi pribadinya.
Seringkali, cara pandang kita dalam melihat kebenaran itu seperti melihat dua sisi mata uang yang bergambar A di satu sisi dan B di sisi lainnya. Kebenaran itu bisa terlihat seperti A kalau dilihat dari sisi A, tapi juga bisa terlihat seperti B kalau dilihat dari sisi B. Yang lebih merepotkan lagi adalah kalau ada pihak-pihak yang sengaja menghapus atau mengaburkan salah satu sisi atau kedua sisi mata uang itu supaya kita tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya. Apakah itu kebenaran sejatinya?
Referensi:
[1] Tobing, Y. (3 Mar 2022). Ukraina harap Muslim Indonesia tidak terprovokasi propaganda Rusia. Sindonews. Dikutip daring dari laman https://nasional.sindonews.com/read/702425/15/ukraina-harap-muslim-indonesia-tidak-terprovokasi-propaganda-rusia-1646323418?_gl=1*1e76itn*_ga*S1p5WG00WEdzYkR4TlE0bzdmaVA1ZUxfNVdpVTlPa3hGME1DRWdHWG9ldXRJLV9idkFERkRWV2J2dXgtMF9UeA..
[2] Mchedlisvili, L. (8 Mar 2022). ‘We have only one enemy – this is Russia’: the Chechens taking up arms for Ukraine. OC-Media. Dikutip dari laman https://oc-media.org/features/we-have-only-one-enemy-this-is-russia-the-chechens-taking-up-arms-for-ukraine/
[3] Adler, B. (15 Mar 2022). Ukrainian Mayor heralded by many, is Ultranationalist. Yahoo News. Dikutip dari laman https://ph.news.yahoo.com/ukrainian-mayor-heralded-by-many-is-ultranationalist-161819300.html
[4] Gregory, A. (7 Mar 2022). German Embassy tweets Russia to slap down claims it’s troops are fighting Nazism in Ukraine. The Independent UK. Dikutip dari laman https://www.independent.co.uk/news/world/europe/german-embassy-russia-ukraine-nazism-b2029643.html
[5] Hauer, N. (3 Mar 2022). Chechens fighting Chechens in Ukraine. NewLines Magazine. Dikutip daring dari laman https://newlinesmag.com/reportage/chechens-fighting-chechens-in-ukraine/
[6] Tayler, J. (Jan/Feb 2005). Russia’s Holy Warrior. The Atlantic. Dikutip dari laman https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2005/01/russias-holy-warriors/303685/
[7] Walker, S. (21 Sept 2019). ‘We can find you anywhere’: the Chechen death squad stalking Europe. The Guardian. Dikutip dari laman https://www.theguardian.com/world/2019/sep/21/chechnya-death-squads-europe-ramzan-kadyrov
[8] Nazaryan, A. (19 Mar 2022). ‘A Psychopath’: Chechen warlord Kadyrov raised prospect of more brutal phase to Ukraine war. Yahoo News. Dikutip dari laman https://ph.news.yahoo.com/a-psychopath-chechen-warlord-kadyrov-raises-prospect-of-more-brutal-phase-to-ukraine-war-090033439.html
[9] Unknown author (2022). Ukraine onslaught reaches level of Putin’s ruthlessness in Syria. Agence Frech-Presse. Dikutip dari laman https://www.ndtv.com/world-news/ukraine-war-in-ukraine-putin-repeating-syria-chechnya-destruction-images-show-2806704
[10] Yuan, S. (5 Mar 2022). Syrians recount horror under Russian air attacks. Al Jazeera. Dikutip dari laman https://www.aljazeera.com/news/2022/3/5/syrians-recount-horror-under-russian-air-attacks
[11] MacKinnon, A. (6 Jul 201). Russia’s Wagner Group doesn’t actually exist. Foreign Policy. Dikutip dari laman https://foreignpolicy.com/2021/07/06/what-is-wagner-group-russia-mercenaries-military-contractor/
[12] Fasanoti, F. S. (8 Feb 2022). Russia’s Wagner Group in Africa: Influence, commercial concessions, rights violations and counter insurgency failures. Brookings. Dikutip dari laman https://www.brookings.edu/blog/order-from-chaos/2022/02/08/russias-wagner-group-in-africa-influence-commercial-concessions-rights-violations-and-counterinsurgency-failure/
[13] Unknown author (21 Feb 2022). Mufti of Crimean Muslims urges co-religionists in the Russian army to return home. Religious Information Services of Ukraine. Dikutip dari laman https://risu.ua/en/mufti-of-crimean-muslims-urges-co-religionists-in-the-russian-army-to-return-home_n126275
[14] Grant, S. (2022). Vladimir Putin’s invasion of Ukraine is not just war of politics, -it’s a holy war. ABC News Australia. Dikutip dari laman https://www.abc.net.au/news/2022-03-20/vladimir-putin-invasion-ukraine-politics-holy-war/100921102
[15] White, C. (16 Mar 2022). Pope Francis in video conference with Russian Patriarch Kirill rejects religious defense of invasion. NCR Online. Dikutip dari laman https://www.ncronline.org/news/vatican/pope-francis-video-conference-russian-patriarch-kirill-rejects-religious-defense
[16] Shatter, D. (20 Feb 2009). Putin runs the Russian state – and the Russian church too. Forbes. Dikutip dari laman https://www.forbes.com/2009/02/20/putin-solzhenitsyn-kirill-russia-opinions-contributors_orthodox_church.html?sh=3049e9c03bf9
[17] Meek, J. (12 Feb 1999). Russian Patriarch was a KGB. Spy. The Guardian. Dikutip dari laman https://www.theguardian.com/world/1999/feb/12/1
