Oleh: Buntoro.
Beberapa tahun terakhir, media di Indonesia seringkali mengekspos aksi orang-orang tertentu yang mengaku super kaya alias ‘Crazy Rich,’ besar kemungkinan karena pengaruh filem ‘Crazy Rich Asians’ yang populer di tahun 2018. Kelompok Crazy Rich di Indonesia kebanyakan memamerkan kekayaan mereka di media sosial dengan cara membagi-bagi uang atau sok pamer kendaraan atau barang mewah. Namun, akhir-akhir ini citra ‘Crazy Rich’ di Indonesia mulai tercoreng dengan terungkapnya kasus penipuan berkedok investasi seperti Binomo atau Quotex terkait mereka yang mengaku ‘Crazy Rich.’ Banyak orang yang sok ‘Crazy Rich’ ternyata mendapatkan kekayaan mereka dari kemalangan orang lain yang mereka tipu. Dalam kasus Doni Salmanan, Bareskrim Polri melaporkan bahwa Doni sebagai penganjur (affiliator) investasi itu mendapatkan sekitar 80 persen dari kerugian atau kekalahan mereka yang diajak untuk bermain di Quotex.[1] Dari sanalah baru ketahuan ternyata banyak mereka yang mengaku ‘Crazy Rich’ tersebut cuma bergaya seperti orang kaya (alias pura-pura kaya) demi mengelabui orang lain untuk mempercayai mereka.
Sebenarnya fenomena orang pura-pura kaya untuk menipu ini bukanlah suatu hal yang baru. Sejak jaman dulu pun sudah banyak cerita tentang orang yang berlagak kaya untuk mengajak orang lain menanam modal tapi akhirnya menggelapkan dana yang ditaruh oleh mereka yang tertipu. Modus penipuan mereka pun bermacam-macam: Ada yang menggunakan model multi level marketing (MLM) seperti kasus Talk Fusion yang dituntut banyak orang di tahun 2017,[2] ada yang membuka koperasi simpan pinjam yang menawarkan bunga tinggi; ada juga yang menawarkan investasi kerja sama di bidang pertambangan[3] atau perkebunan.[4] Selain itu banyak juga yang lain yang menipu dengan berbagai modus lainnya, termasuk mereka yang menggunakan kedok agama. Salah satu contoh penggunaan kedok agama untuk penipuan ini dilakukan oleh pemilik First Travel yang menawarkan jasa Umrah murah tapi ternyata mereka hanya mau menggelapkan dana yang ditaruh mereka yang tertarik untuk menjalankan Umrah itu.[5]
Menariknya, mengapa orang Indonesia seperti tidak pernah kapok meskipun sudah sering tertipu oleh investasi bodong? Jawabannya gampang gampang susah. Gampangnya adalah karena banyak orang Indonesia itu banyak yang materialistis dan ingin cepat kaya. Orang Indonesia cenderung suka berbicara tentang investasi atau bisnis dalam percakapan sehari-hari. Mereka juga cenderung percaya pada orang yang terlihat kaya untuk mengelola investasi mereka, mungkin karena mereka berpikir bahwa orang kaya mestinya lebih jago mengelola uang. Sebetulnya, asumsi ini sendiri tidak seratus persen benar atau salah karena banyak orang kaya yang memang jago bisnis atau investasi, tapi ada juga orang yang kaya karena dapat warisan. Sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa banyak orang yang kelihatan kaya itu sebenarnya bukan orang kaya tulen. Orang Indonesia juga cenderung menilai orang berdasarkan penampilan luar mereka. Mereka yang kelihatan necis cenderung lebih dihormati jika dibandingkan mereka yang berpakaian apa-adanya. Susahnya, birokrasi di Indonesia juga sama saja. Coba anda pergi ke kantor kelurahan memakai celana pendek. Jangankan kantor kelurahan, banyak cerita tentang orang yang masuk ke bank pemerintah dengan memakai sandal atau sarung yang diusir oleh satpam bank itu karena dianggap gembel padahal sebenarnya memiliki banyak uang.
Tidaklah mengherankan kalau hampir semua pelaku penipuan atau investasi bodong itu semua memiliki satu kesamaan: Mereka semua bergaya modis dan pura-pura kaya (meskipun aslinya tidak). Lihat saja contoh Andika Surrahman dan Aniesa Hasibuan pemilik First Travel yang menawarkan jasa Umrah murah yang ternyata hanya kedok penipuan itu. Mereka dikenal suka memamerkan kekayaan mereka seperti rumah yang mewah[6] ataupun liburan mewah ke luar negeri yang mereka pajang di media sosial.[7] Pentolan penipuan ala MLM seperti Talk Fusion, Mario Halim, juga sering memamerkan mobil mewahnya untuk menarik minat calon korban.[8] Sama halnya dengan Indra Kenz di kasus penipuan Binomo, Indra juga terkenal suka memamerkan kekayaan atau kemewahan hidupnya, mulai dari pura-pura membeli kendaraan mewah sampai liburan naik jet pribadi.[9] Mereka semua berlagak kaya raya supaya orang percaya bahwa mereka sukses atau jago dalam bisnis atau investasi mereka. Dengan modal itu, mereka mengajak orang untuk investasi yang ujung-ujungnya adalah tipuan. Modus para pelaku penipuan itu sebenarnya sama saja dari jaman baheula: Pura-pura kaya demi mencapai tujuan pribadi. Kita semua tahu bahwa ini bukanlah hal baru.
Saya ingat saat saya kuliah di Surabaya dulu, saya lihat banyak orang yang cenderung menilai orang lain penampilan mereka. Saya ingat waktu celana Versace lagi populer di Surabaya dan banyak mahasiswa atau mahasiswi yang memakai celana ala Versace. Sayangnya, kepopuleran celana Versace itu juga membuat banyak mereka yang tidak mampu membeli Versace asli terpaksa membeli Versace palsu (atau KW istilahnya). Banyaknya barang palsu menyebabkan munculnya banyak “pakar” Versace. Ada satu teman kuliah, yang terkenal kaya (dan memakai pakaian mewah), yang sering dianggap sebagai salah satu pakar. Untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam menilai barang mewah, teman ini sering mengungkapkan berbagai alasan detail untuk membenarkan analisanya. Misalnya, celana itu palsu karena menurutnya kancingnya berbeda dengan versi aslinya atau warnanya yang tidak lazim dan lain sebagainya. Tapi teman itu pernah berkata (dengan bahasa Suroboyoan), “Masiyo Versace asli tapi lek koen cuma numpak bemo, wong sik mikir Versacemu iku palsu. Lek koen numpak BMW, masiyo nganggo Versace palsu, wong mikir iku asli.” (“ Meski Versace asli tapi kalau kamu cuma naik bemo, orang masih menganggap Versacemu itu palsu. Kalau kamu naik BMW, meskipun kamu pakai Versace palsu pun, orang masih menganggap itu asli.”).
Pernyataan ini menarik karena pada dasarnya teman ini berkata bahwa orang Indonesia cenderung menilai kekayaan orang lain dari materi yang lebih “kelihatan” seperti mobil misalnya. Satu teman kuliah dulu juga pernah mengeluh bahwa dia tidak pernah berusaha mencari pacar saat kuliah karena dia merasa malu dikarenakan saingannya pergi naik mobil sementara dia hanya naik bemo. Sedihnya, sifat materialistis itu seringkali juga karena pengaruh orang tua. Banyak orang tua yang cenderung “mata duitan” saat memilih menantu untuk anak mereka. Mereka sering membanding-bandingkan kekayaan orang yang mengejar anak mereka. Tidaklah mengherankan banyak orang yang pamer kekayaan saat berpacaran. Banyak mahasiswa yang dilaporkan meminjam atau bahkan menyewa mobil saat pacaran. Lucunya, mereka yang berlagak kaya sambil membawa mobil bagus saat pacaran seringkali malah bukan berasal dari keluarga kaya, tapi hanya berlagak kaya. Saya ingat sindiran teman dekat mama saya yang bilang, “Lho, dhisik wayahe pacaran tekone nggowo Mercy, mari kawin kok malah nganggo sepeda motor?” (“Lho, dulu saat berpacaran datang membawa (mobil) Mercy, setelah menikah kok malah memakai sepeda motor?”)
Kebiasaan menilai orang lain dari penampilan luarnya inilah yang membuat orang Indonesia cenderung gampang terjebak oleh penipuan oleh orang yang pura-pura kaya. Orang Indonesia seperti lupa bahwa tidak semua orang kaya itu suka memamerkan kekayaan mereka. Berbeda dengan budaya di Indonesia atau di Asia umumnya dimana banyak orang cenderung suka memamerkan kekayaan dalam percakapan sehari-hari, banyak budaya di Eropa yang menganggap kekayaan sebagai suatu topik yang dianggap tabu untuk didiskusikan. Orang di Swedia, yang terkenal sebagai negara kaya, misalnya menganggap diskusi tentang kekayaan sebagai suatu yang tabu karena konsep budaya Jantelagen. Menurut Lola Akinmade Akerstrom (2019), Jantelagen ini pada dasarnya adalah perilaku tidak pamer atau membanggakan diri berlebihan. Ini adalah cara untuk membuat semua orang -umumnya- terlihat sederajat.[10] Konsep yang mirip juga ada di banyak negara Eropa lainnya, seperti di Scandinavia atau Jerman. Psikolog Rolf Daufenbach (2011) menyatakan bahwa, tidak seperti orang Asia, orang Jerman umumnya tidak suka berbicara tentang kekayaan atau pendapatan mereka karena mereka cenderung tidak menyukai hierarki di masyarakat.[11]
Jadi, kapankah manusia Indonesia bisa mulai belajar untuk tidak mudah ditipu oleh penampilan orang yang berlagak kaya? Saya kira ini susah ditebak karena hal ini tergantung pada kemauan orang Indonesia sendiri untuk mau mengubah cara pandang mereka tentang uang dan penampilan. Selain itu, selama orang Indonesia masih materialistis dan ingin cepat kaya, saya kira ini tidak bakal terjadi dalam waktu dekat-dekat ini.
Referensi:
[1] Pramanaz R. A. (9 Mar 2022). Doni Salmanan dapat keuntungan 80 persen dari kekalahan pemain. VOI. Dikutip dari laman https://voi.id/berita/143027/doni-salmanan-dapat-keuntungan-80-persen-dari-kekalahan-pemain
[2] Rosadi, D. (16 Sept 2017). Ratusan warga Bandung tertipu investasi bodong berbasis MLM. Koran Merdeka. Dikutip dari laman https://m.merdeka.com/bandung/halo-bandung/ratusan-warga-bandung-tertipu-investasi-bodong-berbasis-mlm–1709168.html
[3] Syafina, D. C. (26 Jul 2013). Lagi, investasi bodong di pertambangan batubara. Majalah Kontan. Dikutip dari laman https://amp.kontan.co.id/news/lagi-investasi-bodong-di-pertambangan-batubara
[4] Maulana, Y. (13 Jun 2019). Ketipu investasi pohon Rp. 82 M, korban geruduk rumah bos radio. Majalah Detik. Dikutip dari laman https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4585000/ketipu-investasi-pohon-rp-82-m-korban-geruduk-rumah-bos-radio
[5] Viodeogo, Y. (20 Nov 2019). Kasus First Travel: Kami yang rugi, kenapa negara yang untung? Bisnis.com. Dikutip dari laman https://m.bisnis.com/amp/read/20191120/16/1172430/kasus-first-travel-kami-yang-rugi-mengapa-negara-yang-untung
[6] Wahid, A. B. (19 Agu 2017). Utang Rp. 80 M bos First Travel dan calon jemaah yang tertipu. Majalah Detik. Dikutip dari laman https://news.detik.com/berita/d-3605702/utang-rp-80-m-bos-first-travel-dan-calon-jemaah-yang-tertipu
[7] Aco, H. (13 Agu 2017). Hidup glamor bos First Travel! TribunNews. Dikutip dari laman https://www.tribunnews.com/nasional/2017/08/13/hidup-glamor-bos-first-travel
[8] Dunkley, N. (19 Mei 2016). Mario Halim and Ryani Irawan: Talk Fusion’s First Royal Blue Diamonds in Indonesia. Dikutip dari laman https://www.businessforhome.org/2016/05/mario-halim-and-ryani-irawan-talk-fusions-first-royal-blue-diamonds-in-indonesia/
[9] Nursaniyah, F. (14 Mar 2022). Pamer kekayaan ala Indra Kenz di Medsos, liburan naik jet pribadi hingga iseng beli Tesla pukul 3 pagi. Kompas. Dikutip dari laman https://www.kompas.com/hype/read/2022/03/14/211501666/pamer-kekayaan-ala-indra-kenz-di-medsos-liburan-naik-jet-pribadi-hingga
[10] Savage, M. (9 Oct 2019). Jantelagen: Why Swedes don’t talk about wealth. BBC News. Dikutip dari laman https://www.bbc.com/worklife/article/20191008-jantelagen-why-swedes-wont-talk-about-wealth#
[11] Basel, N. (17 Mar 2011). Germans would rather talk about sex than money. Der Spiegel. Dikutip dari laman https://www.theguardian.com/commentisfree/2011/mar/17/germanys-sex-money-salaries-social-hierarchies
