Oleh: Buntoro.
“Menthog…menthog… tak kandani,mung lakumu angisin ngisini, mbok yo ojo ngetok neng kandang wae, enak enak ngorok, ora nyambut gawe. Menthog…menthog… mung lakumu gawe guyu..”
Lagu Menthog di atas adalah lagu rakyat Jawa yang tidak jelas kapan digubahnya. Lagu ini adalah lagu anak yang lumayan populer jaman dulu, setidaknya demikian menurut guru SD saya dulu yang notabene orang Jawa. Menthog dalam bahasa Jawa mengacu pada sejenis bebek/angsa khas Indonesia yang berciri tubuh pendek, agak gemuk dan berbulu putih bersih. Kalau saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, terjemahan harafiah lagu ini adalah “Menthog, menthog, aku kasih tahu, kelakuan mu itu memalukan. Sebaiknya ya jangan cuma terlihat di kandang saja, enak enak tidur, tidak bekerja. Menthog…menthog… kelakuanmu ini membuat orang ketawa.” Kalau dilihat dari literasi harafiahnya, lagu ini sesungguhnya merupakan lagu anak yang cukup mendidik karena berisi pesan sosial yang juga berapa Kritik sosial bagi mereka yang suka bermalas-malasan dan tidak mau bekerja.
Seperti saya tulis di atas, saya mulai dikenalkan dengan lagu ini di Sekolah Dasar saat guru SD saya, pak Amali (kalau saya nggak salah), pernah berkata bahwa lagu Menthog ini dipakai di jaman penjajahan Jepang sebagai alat pemacu semangat nasionalis rakyat Indonesia melawan penjajahan Jepang. Lagu ini dijadikan lagu untuk menyindir penjajah Jepang yang dianggap pendek dan kulitnya “putih.” (Kalau dibandingkan kulit orang Indonesia yang rata-rata agak sawo matang). Lucunya, menurut saya kulit orang Jepang itu sebenarnya kuning, bukan putih. Mereka yang berkulit putih itu sebenarnya orang ras Kaukasian seperti orang Eropa. Sayangnya, kisah patriotik lagu Menthog ini dinodai oleh cerita sumbang dari beberapa orang yang saya kenal yang menyatakan bahwa lagu Menthog ini juga digunakan untuk menyindir Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa juga, entah kenapa. Jujur saja, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di jaman Jepang itu karena saya belum lahir saat itu. Jangankan saya, orang tua saya saja baru lahir di tahun 1945, hanya beberapa bulan sebelum penjajahan Jepang berakhir setelah Jepang menyerah di Perang Dunia kedua.
Kontroversi akan sejarah masa lalu memang sering terjadi, terutama jika sejarah itu tidak terdokumentasi secara jelas. Sejarah yang terkait momen besar bersejarah seperti proklamasi kemerdekaan mungkin banyak terekam secara mendetail di buku sejarah tapi sejarah yang terkait cerita rakyat seperti lagu Menthog diatas mungkin cuma hidup dari cerita rakyat mulut ke mulut yang terkadang kurang jelas narasi ataupun akurasinya. Memang susah melacak kembali apa yang terjadi jaman tahun 1940-an karena peristiwa itu terjadi lebih dari 70-an tahun lalu dan tidak banyak saksi mata hidup yang bisa mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi. Kalaupun ada, kesaksian beberapa orang itu bisa diklasifikasikan sebagai pendapat pribadi yang seringkali dipengaruhi kuat oleh bias (kecenderungan) pribadi orang tersebut. Ada juga yang menganggap kesaksian orang yang sudah tua seringkali kurang akurat karena pengaruh biologis tubuh manusia sendiri, yaitu pudarnya ingatan manusia seiring dengan penuaan tubuh fisik manusia.
Nah, anda mungkin bertanya, “Lha, mengapa tiba-tiba mengangkat lagu Menthog ini?” Jujur saja, saya juga tiba-tiba teringat akan lagu ini saat saya menulis respon di media sosial WhatsApp Group (WAG) teman SMA saya dulu. Sebagai latar belakang singkat, diskusi WAG saat itu terkait tragedi kemanusiaan yang melanda negara Ukraine yang sedang diinvasi oleh negara tetangganya, Russia. Saya menulis bahwa invasi Russia ke Ukraina ini kemungkinan bakal menjadi text book (buku acuan) bagi rencana invasi China ke Taiwan juga. Saya melanjutkan, “Kalau China udah mulai invasi Taiwan, kalian mesti mulai kuatir karena kemungkinan WNI keturunan China bisa bernasib sama seperti WN Amerika keturunan Jepang di Perang Dunia 2.” Salah satu teman saya bertanya, “Memang kenapa?” Saya menjawabnya, “Kemungkinan bakal ada sentimen negatif dari masyarakat asli Indonesia, soalnya WNI keturunan bisa dianggap pro China karena keturunan sono. Jaman PD2 Kan gitu di Amerika, WN Amerika keturunan Jepang ditangkap dan dimasukan kamp internment. Aku dulu juga nggak tahu lho sampai aku ke Amerika.”
Jujur saja, saya secara tidak sadar melantunkan lagu Menthog itu saat saya menulis jawaban saya di atas, entah mengapa. Mungkin di pikiran bawah sadar saya, lagu Menthog itu, secara langsung atau tidak, memiliki assosiasi yang kuat dengan ras Jepang ataupun China yang saya tulis di WAG response itu. Manusia itu unik dan seringkali agak ngawur kalau terkait nasionalisme, satu contoh gampangnya ya penggunaan lagu Menthog itu. Terkait benar tidaknya lagu ini dipakai untuk menyindir penjajah Jepang atau WNI keturunan China di Indonesia, penggunaan binatang sebagai alat untuk menyindir atau mengacu akan orang lain bukannya suatu hal baru. Saat saya di Sekolah Dasar pun, banyak teman saling menyindir satu sama lain dengan menggunakan binatang untuk mengacu satu sama lain, meskipun mungkin hanya guyonan anak kecil. Ada teman saya memanggil saya sebagai babi karena saya agak gemuk saat SD. Ada juga teman yang menyindir teman lain sebagai monyet karena kulit dia yang agak coklat matang.
Meskipun kelakuan semacam ini seringkali terjadi, apakah itu berarti kelakuan ini normal atau dapat dibenarkan? Jawabannya tentu saja tidak, setidaknya menurut saya. Tapi sebelum kita bertindak lebih jauh, saya kira perilaku ini mesti dikualifikasi dulu, terutama terkait dengan motif dan konteks masing-masing. Saya kira kita tidak bisa semena-mena menyalahkan penggunaan binatang oleh anak-anak (termasuk saya dan teman saya saat SD dulu) sebagai tindakan yang tidak pantas atau rasis karena anak-anak umumnya masih belum atau kurang mengerti akan kompleksitas hubungan antar manusia. Selain itu, penggunaan istilah binatang oleh anak-anak juga seringkali cuma bersifat guyonan (lelucon) yang tidak memiliki motif negatif. Anak kecil umumnya lebih imaginatif, mereka terkadang mengasosiasi bentuk tubuh atau warna kulit tertentu dan membandingkannya dengan imajinasi mereka akan binatang tertentu yang mereka lihat dari buku. Hal ini tentunya berbesa dengan perilaku orang dewasa yang menghina orang lain sebagai monyet. Untuk orang dewasa, kelakuan seperti ini tentunya tidak dapat dibenarkan.
Kembali ke penggunaan lagu Menthog di atas, asosiasi binatang tertentu untuk menggambarkan manusia lain memang sering terjadi dan kadang susah dimengerti kalau kita tidak mengerti konteksnya. Penggunaan lagu Menthog di jaman penjajahan Jepang mungkin terjadi karena saat itu banyak rakyat yang menderita akibat penjajahan Jepang. Sebagai bangsa terjajah, tidaklah mudah untuk menyatakan kritik atau keluh kesah mereka secara terbuka terhadap penjajah mereka. Salah satu jalan untuk mengungkap uneg-uneg di jaman itu adalah melalui pantun atau lagu rakyat seperti Menthog di atas. Guru SD saya dulu juga pernah menyatir pantun singkat yang menurutnya menggambarkan kondisi rakyat di jaman Jepang, “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro,” yang artinya, “Bekupon itu rumah burung dara, ikut Jepang tambah susah.” Penggunaan istilah Menthog untuk tentara Jepang memang tidak begitu mengejutkan bagi saya karena tentara Jepang sendiri sering dipanggil “kate” (Alias “pendek”) oleh orang Jawa (Mungkin karena tentara Jepang jaman itu relatif lebih pendek kalau dibandingkan dengan tentara Belanda). Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh tentara Jepang saat merekrut rakyat Indonesia sebagai tenaga kerja paksa Romusha demi kemakmuran bangsa Jepang juga bisa dijadikan satu titik acuan lain yang tampak cocok dengan lirik lagu Menthog di atas.
Di lain sisi, penggunaan lagu Menthog untuk menyindir pendatang keturunan China yang lahir dan dibesarkan di Indonesia itu agak aneh dan kurang dapat dinalar menurut saya. Saya tidak berkata demikian hanya karena bias (kecenderungan) pribadi karena saya sendiri adalah keturunan China (Tionghoa). Satu alasan yang paling jelas menurut saya adalah kenyataan bahwa pendatang keturunan China di Indonesia terkenal sebagai pekerja keras, jadi agak bertolak belakang dengan naskah lagu Menthog itu sendiri. Pak Amali, guru SD saya dulu, sering menyindir orang Jawa sendiri sebagai kaum yang malas kalau dibandingkan dengan pendatang Keturunan China. Pak Amali berhipotesis kemalasan orang Jawa itu mungkin karena tanah Indonesia yang subur makmur makanya banyak pepatah seperti, “Ono Dina ono Upo,” (Tiap hari pasti ada nasi).
Tapi mengapa ada suara sumbang yang menyatakan bahwa lagu Menthog ini juga dipakai untuk menyindir pendatang keturunan China di Indonesia. Apakah ini cuma suara sumbang? Saya kira tidak. Tidak ada asap kalau tidak ada api, jujur saja, saya pikir kemungkinan cerita ini ada benarnya juga. Mengapa? Penjelasan paling mudah untuk mengerti kasus ini mungkin bisa dilacak dari kebiasaan stereotyping manusia yang terkadang suka memicu kesalahpahaman atau kerancuan. Sebelum kedatangan tentara Jepang ke Indonesia, mayoritas pendatang yang berkulit kuning di bumi Indonesia adalah pendatang dari daratan China. Saat Jepang menguasai Indonesia dari tangan Belanda, kebanyakan rakyat Indonesia mungkin kurang tahu siapa sebenarnya bangsa Jepang ini. Rakyat Indonesia yang berpendidikan mungkin bisa membedakan bangsa Jepang dari China atau Korea, tapi masyarakat awam mungkin tidak demikian. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau ada rakyat di desa yang menganggap pendatang keturunan China (Tionghoa) adalah identik dengan Jepang karena mereka sama-sama berkulit kuning, menulis tulisan kanji (Jepang pun ada tulisan kanji lho) dan berbicara bahasa asing yang tidak mereka mengerti. Kerancuan dan kesalahpahaman ini saya kira menjadi salah satu penyebab lagu Menthog ini juga dipakai untuk menyindir pendatang keturunan China di Indonesia.
Selain kemungkinan kesalahpahaman, satu penyebab lainnya yang lebih masuk akal, menurut saya, adalah banyaknya suara sumbang terhadap keberadaan WNI keturunan China (Tionghoa) terutama di jaman Order Baru karena pemberangusan sejarah. Saat saya masih di Sekolah Dasar dulu, saya sering mendengar suara sumbang dari banyak orang (termasuk guru SD / SMP saya) yang menuduh di depan umum (termasuk di kelas) bahwa pendatang keturunan Tionghoa sebagai penumpang gratis di Republik Indonesia karena mereka berpikir bahwa keturunan Tionghoa di Indonesia tidak ada andil sama sekali dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Guru sejarah di SMP Negeri yang saya hadiri dulu pun kadang menyindir bahwa kaum pendatang tertentu cenderung lebih pro penjajah. Tentunya beliau tidak menunjuk hidung langsung ke saya, tapi banyak teman-teman SMP yang langsung melirik ke saya sebagai satu-satunya WNI dari keturunan China di kelas saya.
Saat itu saya juga tidak tahu bahwa sejarah Republik Indonesia ternyata telah berulangkali direvisi demi kepentingan penguasa tertentu. Rejim Order Baru Soeharto yang menggulingkan pemerintahan Soekarno nantinya terbukti banyak menghapus fakta sejarah yang dianggap memuliakan rejim Soekarno atau Partai Komunis Indonesia. Tidak hanya itu, rejim Orde Baru juga menghapus banyak fakta sejarah terkait WNI keturunan China terutama yang menunjukkan sisi positif mereka. Karena modus rejim Soeharto didasarkan pada asumsi bahwa pemerintahan Soekarno yang pro Komunis dan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu jahat dan harus dilenyapkan, Warga Negara Indonesia keturunan China (Tionghoa) juga turut menjadi korban langsung atau tidak langsung karenanya. WNI keturunan terdampak terutama karena mereka semua dipuul rata dan dianggap pro-China atau pro-PKI, meskipun seringkali tanpa bukti apapun. Pemerintahan Orde Baru seakan-akan “lupa” bahwa negara China sendiri adalah negara yang masih bersengketa di dalam Negeri mereka. Memang benar, kaum Komunis menguasai ibukota dan sebagian besar wilayah tapi masih ada pemerintahan pihak Nasionalis yang melarikan diri ke Taiwan. Pemerintah Orde Baru tidak hanya menghancurkan kehidupan sosi-ekonomi WNI keturunan Tionghoa tetapi juga mengerdilkan kedudukan mereka dalam politik dan kenegaraan. Tidak hanya itu, gerak-gerik WNI keturunan dibatasi (melalui Undang-Undang seperti PP 10) dan mereka juga dilarang merayakan tradisi atau budaya mereka.
Jujur saja, nasib WNI keturunan saat itu tidak berbeda jauh dengan Warga Negara kelas dua. Entah mengapa, pemerintahan Soeharto juga menghapuskan fakta sejarah terkait sumbangsih WNI keturunan China bagi bangsa Indonesia dari semua buku sejarah resmi. Di Jaman Orde baru, jangan harap anda bisa mendengar sejarah tentang pahlawan nasional keturunan Tionghoa yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan berhasil menjadi salah satu petinggi Angkatan Laut Indonesia seperti Laksamana Muda John Lie. Semua hal yang dianggap menunjukkan WNI keturunan secara positif dilarang, termasuk sejarah tentang terlibatnya keturunan China di perjuangan pra atau paska kemerdekaan ataupun keterlibatan mereka di kabinet jaman presiden Soekarno seperti hilang ditelan bumi.
Setelah kejatuhan Orde Baru, sejarah yang sesungguhnya membuktikan bahwa pada saat berdirinya Republik Indonesia, pendatang keturunan China (Tionghoa) di Indonesia ternyata juga aktif terlibat dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka. Di dalam tubuh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) terdapat empat orang perwakilan Tionghoa Indonesia, yaitu: Oey Tiang Tjoei (#13), Oei Tjong Hauw (#15), Liem Koen Hian (#32); dan Tan Eng Hoa (#38). Sayangnya, fakta sejarah ini nantinya dikaburkan oleh rejim penguasa di Indonesia (Didi Kwartanada, 2014).[1] Sejarah pejuang kemerdekaan dari keturunan China yang sebelumnya dikubur pun akhirnya dibuka kembali, misalnya keberadaan Laksamana John Lie yang akhirnya dinyatakan secara resmi sebagai pahlawan nasional Indonesia pertama dari keturunan China. Menurut laman Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IPKNI), Laksamana Muda John Lie sendiri diresmikan sebagai pahlawan nasional pada 6 November 2009 berdasarkan Keppres No. 058/TK/TH. 2009.[2]
Karena sejarah itu merupakan catatan manusia (baik tertulis atau tidak tertulis), keberadaannya juga seringkali tergantung pada manusia sebagai perekam, penutur, penyadur dan pemelihara sejarah itu sendiri. Sayangnya sejarah seringkali dijadikan objek kekuasaan, dimana fakta sejarah direvisi atau dihapuskan seperti apa yang terjadi di Indonesia di jaman Order Baru. Kembali ke lagu Menthog di atas, saya rasa kita tidak bakal tahu apa yang sebenarnya terjadi di jaman penjajahan Jepang terkait lagu ini, tapi saya hanya berharap bahwa jikalau pemerintah Republik Rakyat China suatu hari memutuskan untuk berperang demi peta Sembilan Garis Putus-putus (Nine Dash Lines), rakyat Indonesia termasuk WNI keturunan Tionghoa bisa belajar dari sejarah lagu Menthog di atas. Jujur saja, saya berharap masyarakat Indonesia memilih bersatu melawan invasi asing tanpa membeda-bedakan asal-usul atau ras. Jangan sampai kita mengulang tragedi kemanusiaan di Amerika Serikat pada saat Perang Dunia media, dimana pemerintah Amerika Serikat menangkap dan memenjarakan semua Warga Negara Amerika keturunan Jepang karena dianggap pro-Jepang yang merupakan musuh Amerika Serikat saat itu.
Ingatlah bahwa kemerdekaan Republik Indonesia itu diperjuangkan oleh anak-anak bangsa dari semua suku, ras ataupun agama. Warga Negara Indonesia keturunan mana pun adalah bagian dari kebhinnekaan (keragaman) yang ada di Republik Indonesia. Jangan biarkan negara ini jatuh kembali ke jaman Order Baru yang mengingkari hak asasi satu kelompok keturunan tertentu dengan membatasi hak-hak mereka seakan-akan mereka adalah bukan Warga Negara Indonesia. Seperti tertulis di pembukaan UUD 1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa…,” oleh karenanya di tengah tantangan agresi atau invasi negara manapun, ingatlah bahwa kemerdekaan yang kita punya sekarang itu bukanlah sesuatu yang didasarkan secara cuma-cuma, tapi telah banyak dibayar oleh darah dan air mata.
Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh!
Merdeka!
NB: Tulisan ini juga diinspirasi oleh semangat perjuangan Warga Negara Ukraina dipimpin oleh presiden mereka yang patriotik, Volodymyr Zelenskyy dalam melawan agresi militer Rusia. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah! Bravo, Zelensky! Glory to Ukraine!
Referensi:
[1] Kwartanada, D. (2014). Penghapusan Nama Tokoh Tionghoa dalam Sejarah. Detik.com. Dikutip daring dari laman https://news.detik.com/kolom/d-2487284/penghapusan-nama-tokoh-tionghoa-dalam-sejarah.
[2] Unknown author. (N.D.). Jahja Daniel Dharma, Laksamana Muda TNI (Purn), (John Lie). IPKNI. Dikutip daring dari laman http://ikpni.or.id/pahlawan/jahja-daniel-dharma/
