Oleh: Buntoro.
Baru-baru ini salah satu teman di WhatsApp Group (WAG) SMA saya bertanya pendapat saya tentang satu video orang bule yang viral terkait konflik di Ukraina. Saya tidak tahu siapa orang bule tersebut, tapi dari beberapa kata kunci yang dia sebutkan (Rockefeller, Freemason, stolen election dan Trump) dapat saya simpulkan bahwa orang bule itu kemungkinan besar adalah seorang Warga Negara Amerika Serikat. Video itu dimulai dengan bule itu menyebut banyak mendengar berita tentang perang di Ukraina tapi dia kemudian mengklaim bahwa berita (tentang invasi Rusia di Ukraina) itu palsu. Dia mengklaim lebih lanjut bahwa Associated Press (Kantor Berita Nirlaba yang berpusat di Amerika Serikat) bahkan mengunggah foto palsu dari perang Israel-Palestina (sebagai perang Ukraine). Dari pernyataan ini, kita bisa simpulkan bahwa orang ini jelas tidak tinggal di Ukraina dan kemungkinan juga tidak kenal orang yang tinggal di Ukraina.
Anehnya, meski orang bule itu mengaku telah mendengar banyak berita tentang konflik di Ukraina tapi mengapa dia tetap menganggap bahwa berita tentang konflik itu palsu? Salah satu alasan yang diberikannya adalah bahwa Putin adalah satu-satunya orang yang tidak mau tunduk pada Tatanan Dunia Baru (New World Order). Jadi, secara tidak langsung dia berkata bahwa semua ini adalah konspirasi dunia melawan Putin/Rusia. Dia kemudian melanjutkan dengan menyebutkan bahwa bank Sentral seluruh dunia telah dikuasai oleh Rockefeller, Rothschild dan Chase. Jadi, secara tidak langsung dia berkata bahwa Putin atau Rusia adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan Dunia dari Tatanan Dunia Baru itu.
Apakah itu Tatanan Dunia Baru (New World Order) yang disebut-sebut oleh orang bule itu? Sebetulnya Tatanan Dunia Baru bisa mengacu ke banyak hal, tapi berdasarkan nama-nama yang disebutkan orang itu, saya beranggapan bahwa orang ini mengacu ke Tatanan Dunia Baru yang juga dikenal sebagai teori konspirasi. Alasan saya yang utama adalah fakta bahwa orang itu menyebut bank Sentral seluruh dunia dikontrol oleh Rockefeller, Rothschild and Chase. Lucunya, kedua nama pertama yang disebutkan memang mengacu pada nama dua keluarga terkenal yang sering dikaitkan dengan teori konspirasi, tapi saya jujur saja agak tertawa saat orang itu menyebut Chase setelah dia menyebut nama Rockefeller dan Rothschild. Sebelum kita membahas Tatanan Dunia Baru, mari kita lihat dulu siapakah sebenarnya Rockefeller, Rothschild atau Chase yang disebutkan oleh orang itu?
Siapa sebenarnya Rockefeller atau Rothschild family itu?
Keluarga Rockefeller adalah nama keluarga kaya di Amerika Serikat yang menjadi kaya melalui bisnis mereka di bidang industri, finansial dan perbankan. Sejarah keluarga ini dimulai saat John D. Rockefeller, seorang pengusaha minyak, mendirikan Standard Oil di tahun 1870. Meskipun dianggap paling kaya di teori konspirasi, majalah Forbes (2020) melaporkan bahwa keluarga Rockefeller sendiri hanya berada di urutan ke-43 dalam ranking keluarga terkaya di Amerika Serikat tahun 2020,[1] jauh dibawah kekayaan keluarga Walton, pendiri Walmart misalnya yang mendapat posisi pertama.[2]
Keluarga Rockefeller sendiri kebanyakan adalah pendukung Partai Republik di Amerika Serikat, tidak berbeda dengan pilihan politik Pat Robertson, salah seorang penggagas teori konspirasi Tatanan Dunia Baru ini. Tetapi berbeda dengan Robertson, keluarga Rockefeller umumnya lebih memilih jalur moderate dalam berpolitik. Salah satu keturunan Rockefeller generasi kelima misalnya, Dave Spencer adalah anggota Komisi Eksekutif di Partai Republik California. Meskipun pendukung Partai Republik, Spencer (2016) menulis op-ed di majalah Politico untuk mengkritik Donald Trump yang saat itu menjabat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik.[3]
Baru-baru ini, nama keluarga Rockefeller dituding terlibat dalam teori konspirasi pandemik COVID-19 (Coronavirus Disease 2019), dimana ada tuduhan keluarga Rockefeller lah yang menyebarkan COVID-19 ini melalui “Operasi Lockstep.” Berita yang tidak jelas sumbernya tapi populer lewat media sosial seperti Facebook ini akhirnya divonis sebagai “hoax” oleh Cox (2021) dalam artikel Cek Fakta di harian USA Today.[4]
Sementara itu, keluarga Rothschild mengacu kepada nama keluarga keturunan Yahudi yang kaya raya di Eropa jaman dulu. Menurut laman Encyclopedia Britannica, keluarga Rothschild adalah nama keluarga perbankan yang paling terkenal di benua Eropa dengan pengalaman lebih dari 200 tahun. Sejarah keluarga ini dimulai oleh Mayer Amschel Rothschild yang lahir di tahun 1744. Mengenai teori konspirasi terkait keluarga Rothschild, Britannica menulis, “Sejarah pengaruh dan kekayaan keluarga Rothschild membuat mereka menjadi sasaran banyak teori konspirasi, mulai dari teori yang mengaku bahwa keluarga Rothschild bisa mengatur cuaca sampai tuduhan bahwa keluarga ini adalah dalang di dunia finansial global. Teori-teori ini, yang dipengaruhi oleh nuansa anti-Yahudi, telah terbukti tidak benar.”[5]
Meskipun nama keluarga Rothschild sering dikutip oleh penganut teori konspirasi, sebenarnya keluarga Rothschild saat ini tidak lagi mempunyai pengaruh besar di ekonomi dunia ataupun di Eropa. Pengaruh keluarga Rothschild pelan-pelan habis dengan perubahan geopolitik Eropa yang membuat banyak kantor cabang keluarga Rothschild yang tutup atau disita penguasa baru. Cabang keluarga Rothschild di Naples misalnya, ditutup pada tahun 1863 dan villa mereka dijual ke Duke Monteleone.[6] Harta milik Rothschild di Austria pun dirampas di tahun 1938 setelah era Nazi. Di tahun 2020, Geoffrey Hoguet, keturunan Rothschild mencoba menggugat pengadilan di Austria untuk mendapatkan kembali harta yang diakuinya sebagai harta keluarga.[7] Pengecekan fakta oleh Evon (2016) di Snopes akan klaim bahwa keluarga Rothschild memiliki kekayaan bersih $500 trilyun dan memegang kontrol 80% kekayaan dunia juga mendapati bahwa klaim ini tidak benar.[8]
Siapakah sebenarnya Chase dalam JP Morgan Chase?
JP Morgan Chase adalah nama satu bank besar di Amerika Serikat saat ini. Memang banyak nama institusi finansial di Amerika Serikat yang juga merupakan nama pendiri institusi itu. Nama JP Morgan dalam JP Morgan Chase Bank misalnya juga merupakan nama pendiri institusi finansial itu. Tapi banyak orang yang tidak tahu bahwa Chase bukanlah nama pendiri bank Chase National Bank yang juga merupakan cikal bakal JP Morgan Chase Bank. Menurut laman resmi JP Morgan Chase, “Chase National Bank didirikan oleh John Thompson… Thompson memberikan nama Chase untuk banknya demi menghormati temannya, Salmon P. Chase, Sekretaris Departemen Keuangan Amerika Serikat di jaman Abraham Lincoln…”[9]
Dari laman resmi JP Morgan Chase Bank itu, kita bisa tahu bahwa Chase bukanlah pendiri Chase National Bank yang juga cikal-bakal JP Morgan Chase. Jadi kalau tiba-tiba ada orang tiba-tiba menyandingkan nama Chase dengan nama keluarga finansial terkenal seperti Rockefeller ataupun Rothschild, kemungkinan orang itu adalah orang bodoh yang berbicara seenak udelnya sendiri, atau orang yang sok tahu meskipun ia sebenarnya tidak tahu sejarah sesungguhnya.
Apakah teori konspirasi Tatanan Dunia Baru itu?
Orang itu juga beralasan bahwa banyak orang yang tidak suka Putin karena Putin adalah satu-satunya orang yang anti Tatanan Dunia Baru. Lucunya, entah dimana orang ini belajar tentang konsep Tatanan Dunia Baru itu, tapi orang ini nampak seperti orang buta yang mengaku dirinya tidak buta. Tatanan Dunia Baru itu sendiri menurut Liga Anti Fitnah (Anti Defamation League) adalah teori konspirasi yang berhipotesis akan munculnya suatu pemerintahan tiran berfaham sosialis yang bakal mengambil alih sebagian besar wilayah di bumi ini untuk menghancurkan benteng kebebasan terakhir dunia yaitu Amerika Serikat. Akhirnya, pemerintahan Tatanan Dunia Baru ini akan melucuti senjata kelompok sipil di Amerika Serikat.[10] Tidaklah mengherankan kalau kaum konservatif Amerika Serikat yang pro kepemilikan senjata oleh masyarakat sangat terobsesi oleh teori ini.
Menurut analisa Barkun (2003), teori Tatanan Dunia Baru yang kita kenal saat ini di Amerika Serikat adalah merupakan hasil evolusi campur aduk dari pengaruh berbagai teori konspirasi dari jaman dulu sampai sekarang. Teori ini dipengaruhi oleh banyak orang, mulai Milton William Cooper (Pembawa acara di radio yang paranoid), Pat Robertson (Penginjil di Amerika Serikat), Jim Keith (Salah satu penulis buku teori Konspirasi yang berasal dari Amerika Serikat) sampai kepada David Icke (Penulis buku teori konspirasi yang berasal dari Inggris).[11] Gampangnya, Tatanan Dunia Baru ini adalah teori campur aduk dari banyak teori konspirasi jaman dulu sampai sekarang (Mulai dari Illuminati, UFO atau Rothschild) yang dibumbui dengan teologi akhir jaman yang dipelintir oleh Pat Robertson.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa teori konspirasi ini sebenarnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran anti-Yahudi. Untuk menjelaskan seberapa dalam paham anti-Yahudi dalam teori ini, Barkun (2003) menggambarkan konsep teori ini sebagai super konspirasi yang terstruktur dalam bentuk banyak jalur cerita yang masing-masing bersarang dalam berbagai jalur cerita lainnya. Para perancang skenario konspirasi ini tentunya bebas menaruh orang Yahudi di hierarki cerita mereka, ada mereka yang menaruh orang Yahudi di puncak teori konspirasi (sebagai pelaku utama), ada yang menaruh mereka di pinggiran tapi ada juga yang menganggap kaum Yahudi sebagai korban dalam alur cerita teori mereka. Tetapi, menurut analisa Barkun, teori konspirasi varian terakhir yang menolak anti-Semitisme itu sangat jarang.[12]
Kembali ke video viral yang menyesatkan tapi agak menggelikan itu, saya berpikir bahwa orang itu kurang waras saat dia menyatakan bahwa Putin adalah satu-satunya orang yang menentang Tatanan Dunia Baru itu. Dia juga beralasan bahwa Trump sangat dekat dengan Putin bukan karena Trump adalah boneka Putin tapi karena Trump setuju dengan Putin untuk melawan Tatanan Dunia Baru itu. Lucunya, orang ini seakan-akan “lupa” akan definisi Tatanan Dunia Baru itu sendiri. Jujur saja, invasi Putin yang terobsesi akan impiannya akan kebangkitan Kekaisaran Russia yang Agung sebenarnya sangat mirip dengan jalur cerita Tatanan Dunia Baru itu. Kenyataan bahwa pemerintahan tiran Putin menyerang negara tetangganya, Ukraina, yang merupakan negara merdeka itu jelas-jelas menunjukkan ambisi Putin untuk berekspansi mengubah tatanan dunia demi obsesi pribadinya. Belum lagi kenyataan bahwa Russia adalah negara Sosialis Komunis, yang juga cocok dengan narasi Tatanan Dunia Baru sendiri. Anehnya, orang itu malah mengklaim sebaliknya.
Serangan Putin ke Ukraina yang tidak mengindahkan aturan-aturan perang, terbukti dengan serangan rudal ke apartment,[13] pembangkit listrik tenaga Nuklir,[14] sekolah,[15] bahkan Rumah Sakit[16] menunjukkan bahwa Putin berniat melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. Putin juga tidak malu untuk berbohong sekali lagi kepada Warga Negara Rusia dan juga dunia, dengan beragam alasan. Salah satu alasan Putin adalah Ukraine adalah milik Rusia, tapi sebenarnya alasan ini tidak masuk akal karena negara Rusia sendiri baru ada setelah kejatuhan Uni Soviet di tahun 1991. Kejatuhan Uni Soviet ini membuat banyak negara bekas Uni Soviet yang memilih merdeka, Ukraina salah satunya. Putin juga berulangkali mengklaim bahwa Rusia dan Ukraine adalah satu bangsa sebagai preteks invasi ini, tapi pernyataan ini banyak dibantah oleh sejarawan Barat. Lenoe dari Universitas Rochester misalnya seperti dikutip oleh Knispel (2022) menyatakan bahwa sejarah Ukraine sangatlah kompleks tetapi Ukraine jelas merupakan negara merdeka.[17]
Salah satu alasan lain yang dilontarkan Rusia adalah perang mereka di Ukraine itu untuk mengalahkan Nazisme.[18] Banyak berita yang melaporkan bahwa tentara Rusia diberi misinformasi bahwa perintah di Ukraine adalah Nazi. Ada cuitan di Twitter kedutaan Besar Rusia Afrika Selatan yang membandingkan invasi Ukraina ini dengan Soviet melawan Nazisme 80 tahun lalu (Meskipun sesungguhnya ini juga narasi palsu karena Uni Soviet berbeda dengan Rusia saat ini). Disinformasi Rusia ini langsung dibantah oleh cuitan Kedutaan Besar Jerman di Afrika Selatan yang menulis, “Ini jelas-jelas bukan untuk melawan Nazisme. Mereka yang percaya pada (alasan) ini harus malu pada diri mereka sendiri.” Negara Jerman tentunya adalah negara yang sangat mengerti tentang Nazisme karena Nazisme dulu lahir di Jerman.[19]
Nyawa manusia sipil di Ukraina tidaklah menjadi bahan pertimbangan bagi Putin. Jangankan nyawa manusia sipil di Ukraina, Putin sendiri seakan-akan tidak peduli dengan nyawa tentara Rusia sendiri. Keputusan Rusia untuk menyerang pembangkit listrik tenaga Nuklir dalam perang ini menunjukkan bahwa mereka juga tidak perduli dengan nyawa tentara mereka sendiri yang juga tidak disiapkan untuk perang nuklir. Mereka juga seperti tidak perduli kalau ada kemungkinan zat radioaktif Nuklir yang lepas dan membunuh banyak orang sipil seperti pada tragedi Chernobyl tahun 1986. Selain itu, media internasional juga melaporkan bahwa prajurit Rusia yang dikirim ke Ukraine tidak diberi informasi yang sesungguhnya. Ada prajurit Rusia yang menyerah atau ditangkap mengaku diiberitahu bahwa mereka dikirim pergi untuk latihan perang, ada juga yang mengaku dikirim sebagai pasukan penjaga perdamaian. Makanya, banyak mereka yang mengaku menyesal atau marah karena mereka ditipu.[20]
Meskipun demikian, anehnya banyak orang yang membela Putin dan invasi Rusia ini, termasuk orang bule Amerika yang membuat video ini. Ironis sekali kenyataan bahwa masih ada orang yang menolak kenyataan bahwa Rusia telah menyerang Ukraine meskipun mereka telah melihat berita dari berbagai media massa, seperti bule Amerika ini. Ada banyak alasan yang dipakai untuk membenarkan kepercayaan mereka ini, ada yang menganggap semua berita perang itu hanyalah tipuan seperti bule ini, tapi ada juga yang menganggap bahwa tentara Ukraina lah yang menyerang apartment atau fasilitas sipil tersebut sesuai dengan narasi disinformasi yang disebarkan oleh media resmi Rusia.
Sekali lagi, manusia itu unik dan cenderung memiliki pemikiran pribadi yang independen, karena itulah ada kontroversi seperti ini. Masih banyak orang yang menolak percaya akan kenyataan atau kebenaran yang telah terbukti secara ilmiah (yang lengkap dengan bukti-buktinya) tapi memilih percaya akan apa yang dia mau percaya sendiri misalnya mereka yang percaya bahwa bumi itu datar meskipun data ilmiah membuktikan bahwa bumi itu bulat. Hal terkait kepercayaan pribadi seseorang memang susah untuk didiskusikan, bahkan kalau dikonfrontasi terkadang malah membuat pertikaian. Mengapa? Karena seringkali mereka tetap menganggap yang mereka percaya sebagai kebenaran meskipun ditunjukkan fakta sebaliknya. Banyak dari mereka yang memilih untuk hanya mendengar berita yang mereka sukai atau yang mendukung kepercayaan mereka, mereka juga cenderung menuding informasi yang mereka tidak sukai sebagai “berita palsu” atau “hoax” sebelum mereka mengevaluasinya.
Berita palsu atau hoax yang disebarkan melalui media massa bukanlah suatu hal yang baru tentunya, propaganda yang menyesatkan sudah ada sejak jaman dulu. Adolf Hitler dan rejim Nazinya terkenal dengan Kementrian Propaganda yang dibuat untuk mengontrol narasi informasi yang tersebar melalui film, radio, theater dan juga media cetak demi menjual ideologi Nazi.[21] Pesatnya perkembangan internet dan teknologi selular akhir-akhir ini telah mengubah peta propaganda dunia. Dunia saat ini tidaklah lagi didominasi oleh media massa resmi seperti koran, radio atau televisi tetapi lebih didominasi oleh media baru yang berbasis teknologi seperti media sosial (Facebook, Twitter, TikTok atau YouTube), terutama di kalangan anak muda.
Bukti pengaruh media sosial ini terlihat dari kemenangan Donald Trump yang berhasil menjadi presiden Amerika Serikat ke 44 karena kegagalan pendukung Hillary Clinton dalam membantah hoax dan disinformasi yang menyudutkan Clinton dari agen Russia di media sosial seperti Facebook. Donald Trump sendiri saat menjadi presiden Amerika Serikat juga menggunakan sosial media Twitter untuk mendorong agenda pribadinya untuk mengacaukan opini masyarakat di Amerika dengan berbagai retorik dan pernyataan yang memperpanas situasi. Petualangan Trump di media sosial akhirnya terhenti saat Twitter dan Facebook memblokir dan melarang Trump di platform mereka setelah pidato Trump memicu kerusuhan di Capitol Hill pada January 6, 2021. Facebook dan Twitter sebelumnya sudah banyak dikritik karena tidak berupaya menghentikan wacana disinformasi di media mereka. [22]
Sampai saat ini, media Twitter sendiri dipakai oleh pihak Russia dan Ukraina dalam perang informasi mereka, seperti contoh kontroversi propaganda Twitter Kedutaan Besar Russia di Afrika Selatan yang sempat disebutkan di atas. Jujur saja medan “pertempuran” informasi saat ini jauh lebih luas dari sekedar Twitter atau Facebook. Meski kedua raksasa media itu mengaku telah berkomitmen untuk menyensor berita palsu di platform mereka, banyak media lain yang dapat menggantikan posisi Twitter dan Facebook dalam perang informasi ini, misalnya melalui media TikTok atau Instagram videos dimana kita lihat banyak orang yang tiba-tiba mengaku paling tahu tentang konflik ini. Salah satu contohnya lagi adalah video orang bule di atas.
Nah, bagaimana kita bisa memilah kebenaran berita yang kita dengar, lihat atau baca? Ini sebenarnya agak gampang-gampang susah tapi kunci utama adalah kemauan kita untuk mengevaluasi informasi yang kita terima sebelum mempercayainya. Setelah kita mempunyai kemauan untuk mencari kebenaran, barulah kita perlu mencari metode yang terbaik untuk memilah-milah informasi. Satu metode yang paling efektif adalah memastikan bahwa sumber berita itu adalah sumber berita yang terpercaya. Sayangnya di jaman sosial media ini, banyak orang yang cenderung lebih percaya informasi yang mereka terima dari jaringan sosial media mereka dibandingkan dengan sumber berita resmi. Metode lain yang juga efektif adalah membandingkan informasi yang kita terima dari satu media dengan media lainnya.
Karena berita dari media dapat berisi disinformasi atau hoax (mungkin karena kepentingan politik media atau negara itu), kita mesti hati-hati. Jika satu media menulis A tapi ada media lainnya yang tidak setuju, kita perlu bertanya informasi manakah yang lebih akurat. Sangatlah penting untuk memilih beberapa sumber berita lain yang independent atau yang berasal dari negara lain misalnya untuk membandingkan data yang ada. Misalnya, dalam kasus pertikaian negara A dengan negara B, kita mesti membandingkan berita dari media kedua negara itu, tapi kita juga perlu melakukan cek silang dengan membandingkan informasi dari negara lain yang tidak terlibat atau yang tidak memihak seperti negara C atau D atau E. Jika ada kontradiksi informasi, kita mesti melihat informasi mana yang lebih banyak dianggap sebagai kebenaran oleh media independent sebagai informasi yang lebih benar.
Mari kita belajar untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi saat ini karena dunia informasi saat ini adalah dunia informasi bebas hambatan, terutama dengan kemajuan teknologi seperti internet. Di satu sisi, kemajuan teknologi ini memang bisa dianggap positif karena bisa membuat banyak informasi gampang diakses oleh lebih banyak orang, seringkali dari telepon genggam. Di sisi lain, kemudahan mengakses informasi ini juga membuat penyebaran hoax atau berita palsu lebih cepat juga karena kemajuan teknologi itu sendiri karena seringkali kita hanya perlu satu klik “Teruskan” atau “Forward” untuk menyebarluaskan berita yang kita terima di media sosial app kita. Pertanyaan terbesar adalah apakah berita itu akurat atau hanya hoax?
Referensi:
[1] Unknown author (2020). #43: Rockefeller family. Forbes Magazine. Dikutip dari laman https://www.forbes.com/profile/rockefeller/?sh=4b012978430e
[2] Unknown author (2020). #1 Walton family. Forbes Magazine. Dikutip dari laman https://www.forbes.com/profile/walton-1/?sh=6566e8036f3f
[3] Spencer, D. (2016). Take it from a Rockefeller (Republican), we can revive the GOP. Politico. Dikutip daring dari laman https://www.politico.com/magazine/story/2016/09/donald-trump-2016-rockefeller-republican-214260/
[4] Cox, C. (2021, January 14). Fact Check: “Rockefeller Playbook” and “Operation Lockstep” are hoaxes. USA Today. Dikutip dari laman https://www.usatoday.com/story/news/factcheck/2021/01/14/fact-check-operation-lockstep-covid-19-conspiracy-theory/6567231002/
[5] Bouvier, J. (n.d.). Rothschild family. Encyclopedia Britannica. Dikutip dari laman https://www.britannica.com/topic/Rothschild-family
[6] Unknown author (n.d.) Closure od the Naples House, 1863. The Rothschild Archive. Dikutip dari laman https://guide-to-the-archive.rothschildarchive.org/the-naples-banking-house/depts/the-naples-house-history/closure-of-the-naples-house-1863
[7] Makris, S. (2020). Rothschild lawsuit draws attention to family’s Vienna past. The Times of Israel. Dikutip dari laman https://www.timesofisrael.com/rothschild-lawsuit-draws-attention-to-familys-vienna-past/
[8] Evon, D. (2016). Rothschild Family Wealth. Snopes. Dikutip dari laman https://www.snopes.com/fact-check/rothschild-family-wealth/
[9] Unknown author (n.d.). History of Our Firm. JP Morgan Chase Bank official website. Dikutip dari laman https://www.jpmorganchase.com/about/our-history
[10] Unknown author (n.d.). New World Order. ADL. Dikutip dari laman https://www.adl.org/resources/glossary-terms/new-world-order
[11] Barkun, M. (2003). A Culture of Conspiracy: Apocalyptic Vision in Contemporary America. Berkeley: University of California Press.
[12] Barkun, M. (2003). A Culture of Conspiracy: Apocalyptic Vision in Contemporary America. Berkeley: University of California Press. Dikutip dari laman https://california.universitypressscholarship.com/view/10.1525/california/9780520238053.001.0001/upso-9780520238053-chapter-9
[13] Agencies & TOI Staff (2022). Kyiv residential apartment block hit in Russian shelling. The Times of Israel. Dikutip dari laman https://www.timesofisrael.com/kyiv-residential-apartment-block-hit-in-russian-shelling/
[14] Drake, A. et.al. (2022). Attack on Ukrainian nuclear plant trigger worldwide alarm. Associated Press Need. Dikutip dari laman https://apnews.com/article/russia-ukraine-war-nuclear-plant-attack-33b6c1709dee937750f95c6786832840
[15] Batchelor, T. (2022). Ukraine school left in ruins in Russian airstrikes as Putin’s forces “destroy lives and memories. Independent. Dikutip dari laman https://www.independent.co.uk/news/world/europe/russia-airstrike-ukraine-schools-putin-b2028623.html?amp=
[16] Unknown author (2022). Ukraine: Russian cluster munitions hits hospitals. Human Rights Watch. Dikutip dari laman https://www.hrw.org/news/2022/02/25/ukraine-russian-cluster-munition-hits-hospital#
[17] Knispel, S. (2022). Fact checking Putin’s claim that Ukraine and Russia are ‘one people.’ University of Rochester. Dikutip dari laman https://www.rochester.edu/newscenter/ukraine-history-fact-checking-putin-513812/
[18] Waxman, O. B. (2022). Historians on what Putin gets wrong about ‘Denazification’ in Ukraine. Time Magazine. Dikutip dari laman https://time.com/6154493/denazification-putin-ukraine-history-context/
[19] Sokol, S. (2022). ‘Sadly, we’re kind of experts’: Germany on why Russian is not ‘fighting Nazism’ in Ukraine. Haaretz. Dikutip dari laman https://www.haaretz.com/world-news/.premium-germany-slams-putin-s-cynical-denazification-narrative-on-ukraine-invasion-1.10655431
[20] Harding, L. (2022). Demoralized Russian soldiers tell of anger at being ‘duped’ into war. The Guardian. Dikutip dari laman https://www.theguardian.com/world/2022/mar/04/russian-soldiers-ukraine-anger-duped-into-war
[21] Unknown author (n.d.) Ministry of Propaganda Dan Public Enlightenment. US Holocaust Memorial Museum. Dikutip dari laman https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/article/ministry-of-propaganda-and-public-enlightenment
[22] Conger, K. et.al. (2021). Twitter and Facebook lock Trump’s account after violence in Capitol Hill. The New York Times. Dikutip dari laman https://www.nytimes.com/2021/01/06/technology/capitol-twitter-facebook-trump.html
